Jumat, 22 Maret 2013

Untuk Menyelamatkan Bangsa




 Nama saya Riyan, sudah dua hari ini saya menghabiskan waktu liburan di rumah sederhana saya yang letaknya tidak jauh dari empang tempat bermain saya waktu kecil. Segala bentuk hiburan untuk menghindari kebosanan sudah saya persiapkan dengan matang. Mulai dari novel biasa sampai buku-buku yang menurut saya berat sepert buku Fiqh politiknya Hasan al-Bana. Tak ketinggalan saya juga menyediakan seabrek jenis film dari film misterius sampai film cengeng.
 Setiap liburan saya selalu mengalami kebosanan yang bertingkat mulai dari gejala kebosanan sampai kebosanan tingkat kronis. Tapi itu tidak akan terjadi pada liburan saya kali ini. Setiap hari saya menghabiskan sekitar satu sampai tiga bab buku dan satu judul film.
 -
Ngomong-ngomong soal film, saya jadi inget kejadian sebulan yang lalu. Waktu itu saya, Desta dan Viko memaksa Wira ikut nonton bareng di bioskop. Kami bertiga nantangin Wira buat nonton film horror, secara, kami tahu dari riwayat kesehatan Wira menunjukan  bahwa dia pobia film horror . Itung itung sekalian praktek hipnoterapi. Awalnya Wira si menolak keras ajakan  kami, tapi dengan segala bentuk pemaksaan akhirnya Wira pun tunduk patuh pada ajakan kami.
 -
"Yang ini aja bro ada Julia Peres nya," celetuk seorang cowok asing di sebelah saya sambil menunjuk sebuah judul film yang terpampang di papan bagian Now Showing. 
 -
Kalau saya tidak salah melirik judul film itu adalah  Suster Mandi. Kebetulan kali ini yang menentukan judul filmnya adalah saya, dari refrensi yang saya peroleh barusan, akhirnya kami sepakat untuk nonton film Suster mandi.
Kira-kira 30 menit berlalu tapi saya tidak menemukan sedikitpun raut wajah Wira yang ketakutan. “Wir, kamu kok biasa aja si, harusnya kamu takut doong, gimana si Wir !. Saya tau kalimat saya ini terkesan sedikit memaksa."
 -
“Gimana aku mau takut Yan, orang dari tadi setannya mandi mulu, mana seksi gitu setannya, itu kan bukan suatu hal yang menakutkan Yan, tapi mengagumkan,” jawab Wira dengan muka polosnya.
 -
Hahaha.. dari jawaban Wira tadi saya mulai sedikit berfikir. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada pecinta film yang sejenis itu, saya menyimpulkan sendiri, ternyata susah membedakan antara film horror dengan film porno. Saat ini memang banyak sekali kita jumpai film-film horror khususnya di Indonesia yang lebih mengedepankan sisi pornografinya dari pada sisi kehorrorannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung bintang filmya didatangkan dari luar negeri, dan pastinya bintang film porno juga. Saya bener- bener nggak tahu  siapa si yang menjadi anggota dari Lembaga sensor film di Indonesia ini dan cara kerjanya itu seperti apa, kok bisa-bisanya film yang seperti itu bisa lulus sensor. 
 -
Mungkin hal ini kelihatannya sepele, namun perlu disadari bahwa pornografi ini tidak hanya dalam film layar lebar saja yang untuk menontonnya cukup mengeluarkan banyak uang, tetapi  pornografi sudah merebak ke berbagai media yang lebih murah seperti majalah, internet dan pastinya televisi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Tayangan-tayangan yang disajikan oleh media  televisi banyak yang mengandung pornografi.  Dari mulai program berita, kuis, sinetron, acara musik dan yang tidak ketinggalan adalah program infotainment yang banyak mengangkat kehidupan para selebritis  yang notabenenya adalah akar dari pornografi itu sendiri.
 -
Acara-acara  tersebut disajikan seakan tidak mengenal waktu dan segmentasi audiens. Wajar saja kalau sering kita jumpai kasus-kasus tentang razia aparat terhadap siswa-siswa yang menyimpan video porno dalam ponselnya atau kasus tentang pemerkosaan. Dan yang belum lama ini bahkan masih sering kita jumpai saat ini banyak kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di mana saja dan pada siapa saja. Kasus-kasus di atas bisa dikatakan dampak dari media, khususnya televisi yang selama ini hanya memperhatikan eksistensi saja, lebih mengutamakan peningkatan rating ketimbang moralitas masyarakat. 
 -
Untuk mencegahnya tidak bisa dengan melarang masyarakat untuk menonton televisi. Tetapi peran pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah yang seharusnya lebih mengontrol tayangan-tayangan dalam televisi. Sekarang ini di Negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika sudah mulai mengontrol secara ketat tayangan yang berbau porno pada saat jam tayang keluarga atau yang biasa disebut “prime time”. Nah sekarang seharusnya saatnya Indonesia mulai melakukan hal yang serupa supaya bangsa ini benar benar kritis moralitas.
 -
Oleh : Immawati Wilda Jauharoh (KPI 2011)
    


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar anda. Bebas, tapi dilarang yang mengandung SARA.
Fastabiqul Khoirot