IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM - UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

Karakter Pemimpin Islami


(Oleh: Agtusha A. P.)

            Kawan, apa hakekat peran manusia di dunia ini? Pada hakekatya, setiap dari kita adalah khalifah,[1] baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungan sekitar. Hal tersebut menujukkan bahwa manusia memiliki berbagai macam tanggung jawab. Tanggung jawab tersebut dilaksanakan pada masa kepemimpinannya, yaitu selama manusia tersebut hidup. Tanggung jawab manusia sebagai khalifah bermacam-macam sesuai perannya di dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Di mana kepemimpinan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita perlu menerapkan kepemimpinan sesuai dengan hukum Allah. Sebagai mana sabda Rasulullah yang artinya, “apabila kamu melihat orang-orang yang menggunakan hukum-hukum yang tidak nyata, maka anggaplah mereka itu orang-orang yang diperingati oleh Allah, supaya jangan jadi pengikut mereka.” (H.R Muslim)
            Nyatanya, dewasa ini banyak kita temui peristiwa yang sangat memilukan tentang pemimpin. Banyak dari petinggi-petinggi menyalahgunakan statusnya sebagai pemimpin. Terjadi korupsi di mana-mana, banyaknya pemimpin yang tidak adil, munculnya peraturan-peraturan yang justru menjauh dari nilai Islam. Sampai yang paling memilukan adalah adanya ‘permainan’ mereka dengan perempuan-perempuan yang bukan mahramnya. Hal ini membuat masyarakat yang berada di bawah kepemimpinan oknum tersebut merasa jera untuk memilih mereka, namun juga masyarakat tidak bisa bertindak lebih. Semua ketimpangan tersebut tak lain timbul karena lemahnya iman mereka. Apabila iman mereka lemah, shalat mereka juga akan terbengkalai, dan apabila mereka memainkan perihal shalat, maka rusak pulalah urusan yang lain. Mereka, yang dikatakan sebagai pemimpin itu, tidak akan bisa menghindari hal yang keji dan mungkar karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari hal-hal semacam itu.[2]
        Kepemimpinan yang Islami tidak serta merta terbentuk dari pemimpin yang tingkat keimanannya sangat minim. Kepemimpinan yang baik sesuai hukum Allah terbentuk dari para pemimpin yang memiliki keimanan yang baik pula. Dr. Hisham Yahya Altalib (1991 : 55), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu:
Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;
- Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;
- Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah. Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham;
- Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar.Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya. Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman, “(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).
Kepemimpinan Islam bukanlah kepemimpinan yang tirani dan tanpa koordinasi. Kepemimpinan Islam yaitu dilakukan dengan prinsip musyawarah[3], dilaksanakan dengan menegakkan keadilan[4] dan amar ma’ruf nahi munkar[5]. Kepemimpinan Islam sangat dikaitkan erat dengan musyawarah karena di dalam Q.S. Asy-Syura : 37-38 musyawarah sebagai sifat ketiga bagi masyarakat Islam dituturkan sesudah iman dan shalat[6]. Itu berarti musyawarah memiliki kedudukan penting di dalam sebuah kepemimpinan. Sebagai hamba-Nya sekaligus sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan oleh Allah untuk bersikap adil dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap diri dan keluarganya sendiri, maupun kepada orang lain. Bahkan kepada musuh sekalipun setiap mukmin harus dapat berlaku adil. Sedangkan pada kepemimpinan yang amar ma’ruf nahi munkar adalah kepemimpinan yang didalamnya terdapat pemimpin yang betul-betul mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Bila tugas tersebut diabaikan atau tidak dilaksanakan, umat Islam bisa menjadi umat yang terburuk dan tidak akan diperhitungkan oleh umat yang lain.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan pemimpin. Pemimpin Islam akan melahirkan pula sebuah kepemimpinan Islam. Sesuai firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah : 55, bahwa sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).  Kepemimpinan Islam seperti yang telah saya sebutkan di atas akan teralisasikan apabila pemimpinnya beriman kepada Allah SWT., mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan selalu tunduk patuh kepada Allah SWT..




[1] Q.S. Al-Baqarah : 30
[2] Q.S. Al-‘Ankabut : 45
[3]Q.S. Asy-Syura : 37-38
[4] Q.S. An-Nahl : 90
[5] Q.S. Ali-Imran : 110
[6] Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: LPPI, 1999), hlm. 230

Selasa, 27 Oktober 2015

Pemuda Smartphone




Apa yang kalian ketahui tentang pemuda zaman perjuangan? Ya, mesti tak sedikit dari kalian yang menjawab: “Pemuda zaman perjuangan ya berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia”. Apakah menurut kalian perjuangan hanya sebatas melawan penjajah asing ? TIDAK! Bung Karno pernah menyebutkan bahwa melawan penjajah dari bangsa lain bahkan lebih mudah, dibandingkan harus melawan musuh yang berasal dari seragam yang sama, darah yang sama. Itulah kita saat ini. Kita sudah tidak berperang melawan penjajah dari bangsa lain, berlari-lari karna dikejar peluru dari negara lain. Tapi saat ini kita berjuang melawan sistem yang dibangun oleh penguasa negeri sendiri, yang berasal dari tanah yang sama, bahasa yang sama, bahkan dengan darah mengalir yang sama.
Ah, tapi sepertinya pemuda saat ini tak kalah hebatnya dengan para pemuda pejuang saat itu. Kurang “hebat” apa lagi, mereka tetap tenang saat saudaranya harus menghisap asap tiap hari karna tak ada lagi oksigen yang dapat mereka hirup. Harus bersusah payah bernapas bahkan di negara yang menjadi paru-paru dunia. Bisakah kau bayangkan ketika negara yang menjadi paru-paru dunia saja susah bernapas, bagaimana dengan negara yang bertumpu pada negara ini? Itu hanya satu kasus yang ditulis dari puluhan kasus yang ada di Indonesia. Dan apa yang dilakukan oleh pemuda-pemuda saat ini? Mereka tetap tenang dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. (Bahkan mungkin ketika haknya tak terpenuhi pun mereka tetap bisa hidup dengan tenang). Miris sekali.
Entah diam karna tak tahu apa yang harus dilakukan, atau diam karna mereka terlalu tenang dengan hidup di zona amannya. Ya, kemungkinan besar mereka terlalu nyaman dengan dunianya saat ini. Meskipun bila ditelusuri, permasalahan-permasalahan yang muncul di negara saat ini tak jauh berbeda –bahkan mungkin lebih kompleks – dengan permasalahan yang muncul dan menuntut pemudanya terus berjuang sampai untuk memikirkan kapan dirinya tidur pun tak sempat.
            Bagiku pemuda saat ini dengan pemuda saat itu sama-sama menghadapi permasalahan yang sama rumitnya. Hanya saja saat ini mereka tak berani untuk berteriak (entah tak berani berteriak atau tak paham apa yang perlu diteriaki) sekedar mempertahankan suara hatinya. Berbeda dengan masa pemuda pejuang, yang begitu peka dengan apa yang sedang terjadi di bangsa ini.
Mungkin, yang menjadi alasan karena pemuda saat itu tidak mengenal apa itu Smartphone, sehingga kepekaannya terhadap lingkungan tak terhalang cahaya dari layar-layar lebarnya. Mungkin, kalau pemuda saat itu berjalan dengan perlahan karna melihat situasi yang ada di sekitar jalanan yang mereka lewati, tapi pemuda saat ini berjalan perlahan karna mereka takut menabrak benda dihadapannya. Kau tahu kenapa? Ya, karna pemuda saat ini terlalu sibuk dengan “gerakan menunduknya” seolah mereka menjadi seorang budak bagi ponsel yang dimilikinya. Tak salah, ketika perusahaan menamainya ‘ponsel pintar’, karna bahkan manusia pun bersedia tunduk dengannya berjam-jam, hingga tak tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

(Immawati Dwi Putri Suryandini)



Minggu, 04 Oktober 2015

“PanggungDemokrasi yang Kosong”


“PanggungDemokrasi yang Kosong”
Oleh: Muammar Rafsanjani*
Dahulu, jalanan merupakan sebuah panggung demokrasi. Terutama bagi mereka para mahasiswa yang menyuarakan aspirasi,yang membela hak-hak kaum mustadh’afin. Disanalah tempat terukirnya sejarah perubahan besar bangsa Indonesia. Ingatan pun masih menolak lupa atas tragedi-tragedi yang terjadi di panggung demokrasi ini. Bayonet tertancap di dada, peluru yang datang entah dari mana, pejuang yang hilang entah kemana, darah menetes disana. Namun, kini jalanan hanya menjadi sebuah saksi bisu sebagai sebuah panggung demokrasi ini. Mahasiswa yang dengan bangganya mendeklarasikan diri sebagai agen perubahan atau yang sering kita dengar ‘agent of change’ kini hanya menjadi sebuah mitos. Sikap apatis terhadap problematika yang ada di negeri ini telah tertanam dikalangan mahasiswa. Bahkan tidak hanya sikap apatis, akan tetapi bersikap apriori terhadap kegiatan demonstrasi. Padahal problematika yang kita hadapi saat ini semakin hari semakin kompleks.

Sabtu, 06 Desember 2014

KUNJUNGAN INDUSTRI: UPAYA MEMBUKA KACAMATA WIRAUSAHA KADER



Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogjakarta (IMM FAI UMY),Jum’at 5 Desember 2014 melaksanakan kunjungan industri  ke Bakpia Pathok 25. Rumah produksi  industri ini terletak di jalan. Acara  diikuti kurang lebih 49 kader yang  ini berjalan tertib dan lancar.
Peserta di sambut dengan baik. Kemudian peserta diajak melihat proses pembuatan bakpia mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, pembuatan adonan, pembentukan, pemanggangan hingga menjadi barang siap jual. Dilanjutkan diskusi tentang banyak hal dengan juru bicara perusahaan tersebut. Peserta cukup antusias karena banyak pertanyaan tentang menajemen perusahan, tentang karyawan, tentang pemasaran dan lain sebagainya.
“Selain untuk melaksanakan program bidang sosial dan ekonomi  acara ini adalah upaya dari IMM FAI UMY untuk membuka wawasan kader tentang bidang wirausaha” ujar Immawati Era selaku ketua pelaksana. Acara ini mendapat sambutan positif dari peserta kegiatan, salah satunya adalah Immawati Winceh. Ia berujar  “ Acaranya seru,  asyik, harapan saya IMM FAI juga bisa mempunyai wirausaha”. hif









Jumat, 17 Januari 2014

Bhinneka Tunggal Ika Menghidupkan Semangat Ke-bhinneka-an, Mewujudkan Persatuan Indonesia

Rangkuman:
Keberagaman telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Beragam suku, agama, ras dan antar golongan memenuhi khazanah sejarah perjalanan bangsa ini. Keberagaman ini dapat menghasilkan dampak negatif dan positif, tergantung bagaimana bangsa indonesia mengelolah keberagaman bangsanya. jika jurang pemisah, sekat-sekat, pembatas dan dikotomi masih nampak jelas berkeliaran diwilayah bangsa indonesia, tak menuntut kemungkinan konflik, bentrokan, kekerasan, tawuran dan pemberontakan akan terus terjadi. Hal ini tentu akan membuat kondisi bangsa menjadi sakit, Namun jika bangsa ini menginginkan kondisi bangsa yang sehat, tetap utuh dan bertahan lama, maka keberagaman yang ada di negeri ini  harus dirawat dengan baik, diajarkan untuk bersifat inklusif, berwajah toleran, menegakkan dan menjunjung tinggi kearifan bangsa serta nilai-nilai kemanusiaan.
Satu kata yang harus tertanam kuat di negeri yang beragam ini yaitu “Persatuan”, kata ini harus terus digaungkan dan dijiwai hingga tertanam kokoh dan mendarah daging  sebagai jati diri bangsa. Persatuan Indonesia harus dimaknai secara mendalam di negeri ini yang  memiliki keberagaman, agar bangsa ini menjadi Indonesia merdeka yang berjiwa arif dan bijaksana. Keberagaman bangsa ini tentunya juga harus di maknai secara mendalam pula, agar makna keberagaman bangsa mampu menciptakan gerakan masifitas anak bangsa dalam bingkai persatuan Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia perlu menghidupkan kembali semangat keberagaman sebagai bentuk perwujudan persatuan Indonesia.



Keindahan Keberagaman  Indonesia KU
Indonesia dulu terkenal dengan sebutan nusantara, isltilah nusantara berasal dari dua kata yaitu  nusa dan antara.  Nusa (bahasa sanksekerta) berarti pulau, tanah air sedangkan antara adalah jarak, sela, selang, di tengah-tengah dua benda. Sehingga kata nusantara berarti pulau-pulau yang terletak di tengah-tengah Benua Asia dan Australia diapit oleh dua Samudara yaitu Hindia dan Fasifik. Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki banyak pulau yaitu lebih dari 17.000 pulau-pulau, tepat kiranya sebagian pakar menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara maritim. Jika dilihat dari garis busur dan lintang,Indonesia terletak pada posisi 94,15°-141,05° bujur timur dan 6,08° lintang utara dan 11,15° lintang selatan[1], ini merupakan kategori sebuah negara yang luas dan besar. Indonesia tampak indah nan cantik dengan penghiasan pulau-pulau yang mengelilingi negeri ini.
Pulau-pulau yang indah itu  terbentang dari bagian barat Indonesia yaitu Sabang sampai bagian timur yaitu Maraoke. Pulau-pulau itu memiliki banyak keanekaragaman kebudayaan, bahasa, dan adat istiadat. Keanekaragaman disetiap pulau-pulau itu memiliki ciri khas tersendiri, ini lah yang membuat bangsa Indonesia memiliki banyak kebudayaan. Keanekaragaman bangsa ini dipengaruhi oleh keberagaman Suku-suku, agama, ras dan antar golongan yang menghuni pulau-pulau wilayah Indonesia. Ratusaan suku-suku tersebar di seluruh wilayah Indonesia, di bagian pulau Sumatra terdapat suku Batak, Aceh, Minang, Melayu, di bagian pulau Kalimantan terdapat suku Bugis, Dayak, di pulau Jawa terdapat suku Jawa, Sunda, Betawi, di pulau Sulawesi ada suku Ampana, Ambon, Dampales  dan di pulau Papua ada suku Mimika, Timonini, Yapen.
Selain suku, keberagaman agama yang di anut oleh masyarakat Indonesia ternyata memberikan sumbangsih dan ikut serta mempengaruhi corak kebudayaan-kebudayaan bangsa ini. Agama yang tercatat resmi di negeri yang multikultural ini sampai saat ini adalah kristen, Islam, Hindu, Budha dan Thionghoa. Bangsa ini juga memiliki Ras yang berbeda, sebagian besar bangsa ini di kategorikan dengan monggoloid tapi di bagian indonesia timur diidentik dengan ras negroid. Antargolongan bangsa ini juga beragam, saat Pra-kemerdekaan antargolongan yang di maksud adalah golongan penjajah, golongan asing, dan pribumi, tpi saat ini mungkin dapat diartikan sebagai golongan kaya, miskin, pegawai negeri, petani, buruh. Keberagaman itu lah yang menciptakan keanekaragaman adat istiadat, bahasa, dan kebudayaan ibu pertiwi (baca: Indonesia), Sehingga tepat  pengakuan secara legalitas keberagaman bangsa ini sebagai anak kangdung banga Indonesia.
  Tantangan dalam Ke-bhinneka-an
Keberagaman bangsa ini belum dirawat seoptimal mungkin dengan kearifan dan kebijaksanaa, Buktinya Pasca-kemerdekaan pada masa orde lama, orde baru dan era reformasi bangsa ini belum mampu menciptakaan perdamaian atas keragaman itu. Konflik menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai, bahkan seringkali konflik itu menimbulkan kekerasan, tawuran, bentrokan, dan pemberontakan. Konflik antar suku-suku,antar golongan, antar agama dan bahkan konflik seagama juga sering terjadi. Tak sedikit konflik itu selalu mengakibatkan kerusakan dan merenggut korban jiwa. Seperti kasus yang terjadi di Provinsi lampung yaitu konflik antara suku bali dan suku asli lampung, lalu konflik di bagian timur Indonesia (papua) yang mengakibatkan  peperangan antar suku, kemudian bentrokan antar suku yang juga terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara.
Keberagaman adalah anak kandung Indonesia. bangsa ini harus arif dan bijaksana dalam mengelolah keberagaman anak-anak bangsa ini, agar kelak menjadi generasi yang berkualitas menjadi anak emas penerus tampuk kepemimpinan bangsa. Keragaman harusnya dijadikan sebuah kekuatan besar bagi bangsa ini untuk menciptakan dan membangun bangsa yang kuat dan berdaulat. Pemanfaatan gerakan kedaerahan harus dioptimalkan dalam menuju persatuan bangsa. Gerakan kearifan lokal kedaearahan harus berada dalam  payung gerakan nasional sehingga akan mampu mewujudkan bangsa yang memiliki kepribadian kebangsaan dengan mental baja. Namun kesadaran keberagaman ini agaknya mulai memudar di negeri yang kaya kebudayaan ini.
 Tak kalah menariknya bentrokan atas nama agama juga masih berkeliaran bebas di negeri plural ini,  yang  mengakibatkan ketidak nyamanan dalam menjalankan ibadah. Kasus beberapa tahun yang lalu atas nama keagamaan yaitu konflik di Poso, Sulawesi Utara, mengakibatkan kerusuhan, kekerasan dan penyerangan yang  menghasilkan perusakan rumah-rumah peribadatan seperti gereja dan masjid. Selain konflik antar agama, konflik seagama juga masih sering terjadi, buktinya kasus di Jawa Timur, penyerangan dan penghancuran masjid oleh suatu jama’ah terhadap suatu golongan jama’ah lain yang dianggapnya aliran sesat. Baru-baru ini kasus di Salatiga, Jawa Tengah Razia bulan Rhamadan yang mengatasnamakan pembela agama yang bertindak anarkis terhadap masyarakat dan mengakibatkan korban jiwa. Kemudian kasus bom bunuh diri di masjid instansi kepolisian pada tahun lalu. Kasus diatas menjadi bukti sejarah bahwa konflik atas nama keagamaan masih terus terjadi.
ironis dan Sungguh menyedihkan,  identitas keberagaman yang disemat oleh bangsa ini ternyata belum mampu menciptakan suasana yang harmonis, nyaman, tentram dan damai dalam hidup kewarganegaraan. Konflik yang terjadi diatas menggambarkan bahwa sebagian besar anak-anak bangsa ini belum mampu memaknai dan menjunjung tinggi semboyan bangsa ‘’bhinneka tunggal ika’’. Seharusnya semboyang itu menjadi pijakan bagi bangsa ini untuk berjalan menebarkan perdamaian, kerukunan, keadilan dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Kearifan Bangsa dalam Menangani Ke-bhinneka-an
Keberagaman (kebhinnekaan) Indonesia merupakan bukti nyata bahwa bangsa ini memang plural dan multikultural, sebuah kekayaan bangsa yang harus dijaga keutuhannya dengan baik. Keberagaman Indonesia selain menciptakan karya keanekaragaman kebudayaan, adat dan budaya, menurut pandangan saya juga merupakan satu hal yang melatarbelakangi dan  memotori para funding father kita untuk mencetuskan Pancasila sebagai dasar negara bangsa Indonesia. Mari kita menilik batang tubuh Pancasila yang dimilikinya yaitu berisikan sila pertama ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga persatuan Indonesia, keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan perwakilan, dan kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Sila pertama menjelaskan bahwa dalam wilayah Indonesia warganegaranya menganut kepercayaan yang berbeda-beda dengan prisip ke-Tuhanaan. Penganut keagamaan itu ada yang menjadi umat Kritiani, umat Muslim, umat Hindu, umat Budha dan umat Tionghoa. Pencetusan sila pertama ini merupakan hasil pengejawantahan atas keberagaman  keagamaan bangsa ini. Sila ke-dua merupaka ciri khas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan sila ke-tiga merupakan refleksi dari pemaknaan atas keberagamaan SARA, agar senantiasa berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semangat persatuan. Sila ke-empat mendeskripsikan bahwa keberagaman yang dimiliki  bangsa ini harus ada ruang  musyawarah yang merupakan jalan untuk dialog  kebangsaan untuk menentukan jalannya pemerintahan yang bijaksana dan adil sehingga mampu merangkul SARA dalam bingkai harmonisasi. Dan sila ke-lima merupakan cita-cita bangsa yang harus terus diperjuangkan.
 Lima sila yang berada dalam tubuh  burung Garuda itu di rumuskan oleh para funding father kita, bertujuan supaya bangsa ini utuh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rupanya para pendiri bangsa ini telah memikirkan jauh ke depan keutuhan bangsa  yaitu dengan jargon “persatuan”.  Bukti upaya persatuan  itu, yaitu dirumuskannya  pita dengan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dicengkram oleh burung Garuda. keberagaman harus disatukan dan diikat dengan semangat persatuan bangsa.  Maka oleh sebab itu, bangsa ini harus mampu secara arif dan bijaksana merawat semangat persatuan dalam upaya merangkul keberagama, Agar keutuhan bangsa Indonesia tetap terjaga  dan terus bertahan dengan baik selamanya.
MenghidupkanSemangat Ke-bhinneka-an
            Bangsa Indonesia harus mampu merawat dan mendidik ke-bhinneka-an dan membesarkannya dalam bingkai keindonesiaan. Karena kekuatan terbesar bangsa Indonesia adalah ketika kebhinekaan bangsa menjadi satu kesatuan dalam persatuan Indonesia. Merekalah kelak yag akan membawa bangsa ini untuk menjadi negara yang besar,  maju, dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain, atau malah sebaliknya akan menjadi budak peliharaan bangsa lain. Persatuan Indonesia harus menjadi prioritas utama dalam menjaga keutuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mustahil kiranya jika hendak membangun peradaban bangsa yang besar namun tanpa dilandasi dengan semanga persatuan, sekat-sekat keberagaman masih bertebaran dan nampak jelas, fanatisme masih menjadi sikap yang mendarah daging oleh sebagian golongan.
            Dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa, bangsa Indonesia harus mampu menghidupkan karakter kepribadian kebangsaan yang secara umum membingkai keragaman bangsa dengan semangat persatuan Indonesia. Sikap saling menghargai perbedaan, sikap toleransi, sikap semangat persatuan dan kesatuan anak bangsa, komunikasi intensif  kebangsaan, bersikap inklusif, sikap kasih sayang dan cinta kasih, dapat dijadikan karakter kepribadian bagi negara yang multikultural dan plural ini. Sikap kepribadian bangsa ini menjadi sebuah formulasi dalam menggempur kesenjangan dan sekat-sekat pemisah yang terjadi pada Suku, Agama, Ras dan Antar golongan. Sikap-sikap diatas itu harus terbingkai dan dirawat dengan baik, dengan semangat menjunjung tinggi dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Keberagaman harus terus dihidupkan dan dilestarikan sehingga Keberagaman bangsa bukan menjadi penghalang yang dijadikan alasan untuk terus maju berjuang mewujudkan persatuan Indonesia.
            Toleransi merupakan tindakan kemanusiaan yang paling arif dan bijaksana. Semangat toleransi merupakan kunci utama dalam membuka pintu-pintu perdamaian, kebaikan, kebersamaan, rasa saling memiliki dan melindungi, menumbuhkan rasa empati dan simpati antar suku, agama, ras dan antar dolongan. Keragaman bangsa ini harus diikat dengan tali tolerasi demi keutuhan keberagaman untuk mewujudkan persatuan Indonesia. Dalam mewujudkan persatuan Indonesia prinsip toleransi harus dikedepankan terlebih dahulu untuk menghindari gesekan yang kemungkinan akan menimbulkan konflik bahkan pecah menjadi peperangan, tawuran dan bentrokan masa. Jika semangat toleransi menjadi pegangan anak bangsa maka tidak akan terulang lagi tindakan mendiskriditkan kaum minoritas, penggebrekan jama’ah serta perusakan rumah peribadatan.
Masa depan Indonesia Ku
            Dengan adanya keberagaman suku, agama, ras dan golongan tak menutup kemungkinan gesekan di setiap lapis golongan dapat terjadi kapan saja. Kita tidak bisa memprediksi apakah hidup berdampingan dengan multikultural akan terus hidup nyaman atau malah sebaliknya dalam keadaan ketakutan. Gesekan antar keberagaman bangsa memang harus terus di minimalisir, agar benih-benih semangat persatuan mampu disemat dalam sanubari anak-anak bangsa. Harapannya keberagaman bangsa ini akan selalu memberikan dan menawarkan senyum perdamaian setiap saat dan kapan saja bagi bangsa Indonesia. Senyum perdamaian menjadi pemikat keberagaman dalam upaya mewujudkan semangat persatuan. Jika terjadi gesekan antar SARA maka penyelesaiannya harus diselesaikan dengan arif dan bijak, serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
            Perjuangan dalam membingkai ke-bhinneka-an dengan kearifan, kebijaksanaan, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan memang harus terus dijalankan. Tidak ringan dan mudah dalam memperjuangkan nilai-nilai itu, tapi kita harus tetap berusaha (beikhtiar), selalu  konsisten (istiqamah) dan berdo’a bahwa bangsa ini akan mendapatkan hidayah dari Sang Pencipta, agar generasi bangsa Indonesia kelak mampu mewujudkan makna persatuan Indonesia secara masif (utuh). Sehingga tidak terlihat dan terdengar lagi pemberontakan-pemberontakan anak bangsa untuk memisahkan diri dari NKRI, kekerasan berkedok agama, bentrokan antar suku, tawuran antar pelajar dan mahasiswa. Bangsa Indonesia harus terus menampilkan karakter kepribadian bangsa yang arif dan bijak dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam berkewarganegaraan. Karakter itu harus terus diperjuangkan dan dilestarikan, sampai bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, tangguh dan utuh. Jangan sampai bangsa tercinta ini dirusak oleh tangan-tangan jahil anak-anak bangsa sendiri yang tak memiliki kepedulian dan tak punya ras tanggungjawab dalam berkewarganegaraan. Kita harus tetap optimis bahwa cita-cita untuk mewujudkan persatuan Indonesia di masa depan terbuka lebar bagi bangsa yang beragam ini.





[1] Baca, karya A. Safi’i ma’arif. Islam dalam bingkai keIndonesiaan dan kemanusiaan. 2009. Bandung: Mizan  Hal. 55